Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Gianyar bersama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Agung Al-A'la Kabupaten Gianyar menyelenggarakan Tabligh Akbar bersama Dr. K.H. Das'ad Latif,S.Sos,S.Ag,Ph.D dari Sulawesi.
Acara dimulai dengan Sholat Isya berjamaah dan dilanjutkan dengan pembacaan Maulid yang dipimpin oleh Ustadz Agus Arianto yang juga Ketua Umum Dewan Kemakmuran Masjid Agung Al-A'la Kabupaten Gianyar.
Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Dwinda F. Sukma, Pembacaan sari tilawah bahasa Bali oleh Eka Okta Purnamasari dan bahasa Indonesia oleh Firda Dwi M.
Ustadz Agus Arianto selaku Ketua DKM menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan takdir Allah mudah-mudahan kehadiran beliau menjadikan kita semua menjadi orang-orang yang beriman dan semakin bertaqwa kepada Allah dan mudah-mudahan ilmu yang disampaikan Memberikan manfaat. Dan Terima kasih spesial kami haturkan kepada bapak Kapolres Gianyar atas segala support yang telah diberikan.
Dilanjutkan dengan tausiyah oleh Dr. K.H. Das'ad Latif,S.Sos,S.Ag,M.Si,Ph.D., beliau menyampaikan pentingnya rasa persatuan khususnya di Gianyar, Bali. Ummat Muslim di Gianyar bisa berkembang dan makmur seperti sekarang karena warga lokal mau menerima kita. Maka dari itu janganlah kita bercerai berai.
Artinya: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. [Qur'an Surat Al-'Imran : 102]
Apapun Mazhab-nya, Qunut dan tidak Qunut, tangan saat Takbiratul Ihram-nya beda, bersedekapnya beda janganlah diungkit - ungkit karena semua memiliki dalil yang shohih, tambahnya.
Acara ini juga dihadiri oleh Kapolres Gianyar, AKBP. Umar, Dandim 1616 Gianyar, Letkol Cpn. I Gede Winarsa, Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Gianyar, Ir. I Dewa Gede Putra Amarta, M.Si. , Dari Kemenag Gianyar turut hadir Kasi. Bimas Islam , H. Ma'arif,S.Ag, Kasi PHU, Dr. H. Masruhan,S.Ag,M.Si, KUA Sukawati, H. Akhmad Adiwijaya K.P. BAZNAS Gianyar, Kepala Kejari Gianyar, Agus Wirawan Eko Saputro.
Berikut adalah keutamaan - keutamaan dari Bulan Muharram yang disarikan dari kajian bersama Himpunan Bina Muallaf Indonesia (HBMI) Kabupaten Gianyar yang dipandu oleh Ustadz Ahmad Syukron dari Sidogiri. Kamis 10 Agustus 2023 di Masjid Agung Al-A'la Kabupaten Gianyar.
• Bulan Allah
Muharram juga disebut dengan Syahrullah al Asham yang berarti bulan Allah ﷻ yang sunyi. Keistimewaan ini diriwayatkan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah RA, ia menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
Artinya: "Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah pada bulan Allah yaitu, Muharram." (HR. Muslim).
• Bulan yangdimuliakan
Salah satu hari di bulan Muharram yang sangat dimuliakan oleh umat beragama, yaitu hari Asyura. Islam melakukan penghormatan berupa puasa sunnah pada hari itu atas kemenangan yang diberikan Allah ﷻ kepada Nabi Musa A.S.
Hal ini termaktub dalam hadits dari Ibnu Abbas, ia berkata:
"Ketika Nabi Muhammad ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura. Beliau bertanya, 'Hari apa ini?' Mereka menjawab, 'Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya, Nabi Muhammad ﷺ. bersabda, 'Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa daripada kalian.' Kemudian, Nabi Muhammad ﷺ berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa." (HR. Muslim).
• Bulan baik untuk berpuasa
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Muharram menjadi momen yang baik untuk berbuat baik dan beribadah, salah satunya berpuasa.
Menurut hadis yang diriwayatkan oleh HR Muslim, puasa Muharram merupakan sebaik-baiknya ibadah puasa setelah bulan Ramadan.
Selain itu, Ali bin Abi Thalib RA. juga pernah menjelaskan suatu riwayat yang menyatakan bahwa: "Siapa pun yang melakukan puasa Muharram, maka Allah akan menerima taubat kaum tersebut."
Kegiatan Doa Bersama Akhir Tahun Hijriyah 1444 H dilaksanakan oleh Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Gianyar di Masjid Agung Al - A'la Kabupaten Gianyar setelah Sholat Ashar dan dipimpin oleh Ustadz Alif Ardi dan diikuti oleh 41 jama'ah.
Doa Bersama Awal Tahun 1445 H dilaksanakan setelah rangkaian Sholat Maghrib berjamaah dengan sambutan Mustasyar Masjid, Ustadz M. Hasyim Asy'ari, Tawassul oleh Ustadz Agus Arianto, Istighotsah oleh Ustadz Ali Fardi, dan Doa dipimpin Ustadz H. Ibnu Atho'illah,ST,MT.
"Allahumma ma 'amiltu min 'amalin fi hadzihis sanati ma nahaitani 'anhu, wa lam atub minhu, wa halumta fiha 'alayya bifadhlika ba'da qudratika 'ala 'uqubati, wa da'awtani ilat taubah min ba'di jara'ati 'ala ma'shiyatika. Fa inni astaghfiruka, faghfirli wa ma 'amiltu fiha mimma tardha, wa wa'attani 'alaihi ath-thawaba, fa as'aluka an taqabbala minni wa la taqtha' raja'i minka ya Karim"
Artinya:
"Ya Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini termasuk yang Engkau larang sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Engkau maklumi karena kemurahanMu sementara Engkau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Engkau perintahkan untuk tobat sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakaiMu. Karenanya aku memohon ampun kepadaMu, ampunilah aku. Ya Tuhanku, aku berharap Engkau menerima perbuatanku yang Engkau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahalaMu. Janganlah pupuskan harapanku, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah."
"Allahumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa 'ala fadhlikal 'azhimi wa karimi judikal mu'awwal. Hadza 'amun jadidun qad aqbal. As'alukal 'ishmata fihi minas syaithani wa auliya'ih, wal 'auna 'ala hadzihin nafsil ammarati bis su'i, wal isytighala bima yuqarribuni ilaika zulfa, ya dzal jalali wal ikram."
Artinya:
"Ya Tuhanku, Engkau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karuniaMu yang besar dan kemurahanMu yang mulia, Engkau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepadaMu dari bujukan iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolonganMu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. KepadaMu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmatMu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan."
Dewan Kemakmuran Masjid Agung Al-A'la Kabupaten Gianyar bersama Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Gianyar menyelenggarakan Peringatan Malam Nisfu Sya'ban 1444 H. Selasa, 7 Maret 2023.
Bertempat di lantai atas Masjid Agung Al-A'la Kabupaten Gianyar. Selepas sholat Maghrib berjamaah, acara dimulai dengan pembukaan oleh sambutan Ketua Tanfidz, Ustadz Agus Arianto.
Malam ini adalah malam yang penuh penuh dengan keberkahan. Malam Nisfu Sya'ban jatuh pada pertengahan bulan Sya'ban, ujarnya. Dan dilanjutkan dengan pembacaan surat Yasin pertama oleh H. Miftahul Huda dan doa Nisfu Sya'ban Ustadz M. Hasyim Asy'ari.
Surat Yasin kedua dibacakan oleh Ustadz Ali Fardi dan doa Nisfu Sya'ban kedua dibacakan oleh Ustadz H. Ibnu Atho'illah,ST.MT. Dan surat Yasin ketiga dibacakan oleh Ustadz M. Sofi. dan doa ketiga oleh H. Mussamil.
Surat tersebut dibaca bergantian dan diselingi doa. Acara yang dihadiri oleh sekitar 500 orang ini ditutup dengan sholat Isya berjamaah.
Perkembangan Islam di Kabupaten Gianyar, Bali tidak serta merta dimulai di masa moderen ini saja. Namun jauh sebelum berdirinya Negara Indonesia, tepatnya sejak zaman kerajaan baik Kerajaan Gianyar, Kerajaan Keramas dan lainnya.
A.Kedatangan
Islam Di Bali
Terdapat beragam
versi tentang masuknya Islam ke Bali, diantaranya yang popular ialah pada abad
ke XIV ketika Dalem Ketut Ngelesir sebagai Raja Gelgel (1380-1460 Masehi)
pulang dari kunjungan ke Keraton Majapahit dengan mengajak pengiring (pengikut)
sebanyak 40 orang. Yang mana diantaranya adalah Muslim.
Adapula versi lain
misalnya dari Babad Buleleng pada masa I Gusti Ngurah Panji Sakti; di
Karangasem melalui Tulamben; di Air Kuning, Jembrana dengan didirikannya
Kampung Bajo; bahkan Kampung Bugis di Serangan, Denpasar yang merupakan
prajurit Kerajaan Badung.
B.Kedatangan
Islam Di Kabupaten Gianyar
Di Kabupaten Gianyar
sendiri, terdapat beberapa versi masuknya Islam seperti,
1.Kampung
Islam Sindu Keramas,
Ummat
Islam masuk ke Gianyar pada 1856 M [1].
Yaitu saat kembalinya Ida I Gusti Agung Made Moning dari masa pengasingan di
Selong, Lombok. Beliau kembali ke Keramas, Blahbatuh dengan para wargi
(pengabdi) Muslim.
Menurut
Syamsudin, Alm (panglisir wargi Selam Keramas), nama keenam panglisir itu
adalahPekakRajinah,PekakRajab,PekakLecir,Pekak Kadun,PekakJarum,danPekakMudin.Olehpihakpuri Keramas, merekaditempatkandipinggiran(panepisiring) sebagai benteng
Desa Keramas yang pada saatitu belum
bernama Kampung Sindu.
2. Penemuan 2
Situs Makam Islam Kuno di Desa Tegal Tugu dan Banjar Sangging, Kelurahan
Gianyar
Terdapat
2 makam Muslim kuno yang dipercaya telah ada jauh sebelum masa kemerdekaan
Republik Indonesia. Yang kini salah satunya sering disebut Makam Keramat Syech
Hasan Banten atau Syaikh Hasan Al-Bantani. Namun belum ada bukti ilmiah dan
bukti autentik baik berupa waktu kejadian atau waktu penguburan serta bukti
riwayat identitas kedua makam tersebut. Adapun latar belakang dan penemuan
kedua makam tersebut hanya berdasar dari kisah mistis dan cerita turun temurun
saja
a.Versi pertama
(cerita keluarga penulis [2] yang diriwayatkan secara turun temurun).
Pada
masa Gianyar masih menganut sistem kerajaan disebutkan sepasang musafir Muslim
yang transit atau menginap di selatan Lapangan dekat Puri Gianyar (Alun - Alun
Gianyar). Dan saat malam ketika melaksanakan Sholat, si Wanita dibunuh dengan
tombak dikarenakan warga setempat mengira si Wanita melakukan praktek ilmu
hitam atau yang lazim pada masa itu disebut leak.
Melihat
istrinya dibunuh, si Pria melawan sehingga terjadi pertumpahan darah di pihak
warga setempat. Sedangkan si Pria tidak terluka sedikitpun. Hingga saat si Pria
sadar telah melukai banyak orang, si Pria pun akhirnya menyerahkan diri. Ia pun
memberi sebuah batu apung yang kemudian digunakan sebagai syarat untuk
mengeksekusi dirinya.
Namun
saat dilempar batu apung, si Pria terlempar hingga daerah Tegal Tugu. Tepatnya
di selatan lapangan Tegal Tugu yang menurut cerita orang – orang dahulu
terdapat cekungan yang sulit untuk diurug. Dan akhirnya dimakamkan di belakang tegalan
rumah milik Pak Dewa (depan Pura Desa). Dan justru si Wanitalah yang dimakamkan
di Banjar Sangging, Gianyar.
Dan
dikisahkan pula pada malam tertentu, warga sekitaran Pasdalem Gianyar sering
mendapati 2 sosok cahaya bulat bertemu di langit kemudian kembali ke 2 makam si
Pria dan Wanita. Bahkan ada pula yang mengisahkan bahwa ada warga setempat yang
hendak memetik kelapa di dekat makam. Malah tidak berani turun karena dibawah
pohon kelapa tersebut berupa lautan lepas. Hingga warga tersebut disuruh
meminta maaf dan minta permisi.
Namun
dalam versi ini tidak terdapat informasi terkait identitas jelas dan waktu kejadian.
Suasana Luar Makam Islam Kuno di Banjar Sangging, Gianyar.
b.Versi 2
(cerita dari Bapak M. Suyana dari pak Wayan seorang Bendesa di Kelurahan
Abianbase Gianyar. Dan banyak diceritakan warga Muslim di masa sekarang).
Versi
awal cerita mirip dengan versi 1 yakni pada zaman kerajaan di Gianyar ada
sepasang musafir Muslim yang transit atau menginap di selatan Alun - Alun
Gianyar. Dan saat malam ketika melaksanakan Sholat, si Wanita dibunuh
dikarenakan warga setempat mengira si Wanita melakukan ilmu hitam.
Melihat
istrinya dibunuh, si Pria melawan sehingga terjadi pertumpahan darah di pihak
warga setempat. Sedangkan si pria tidak terluka sedikitpun. Hingga si Pria
sadar telah melukai banyak orang, si Pria pun akhirnya menyerahkan diri untuk
dihukum.
Adapun
si Pria dimakamkan di Banjar Sangging dan makam tersebut dipercaya oleh Bapak
Alm. Abdurahman (Ketua Yappenatim) sebagai sosok bernama Syech Hasan Banten
atau Syaikh Hasan Al-Bantani.
c.Versi 3
(Penerawangan secara spiritual oleh Mustofa Amin)
Berdasarkan
penerawangan secara spiritual atau kontak batin dengan 2 makam yg ada.
Dikatakan bahwa makam di Tegal Tugu tersebut adalah makam seorang Pria bernama
Syech Hasan. Dan beliaupun sempat meminta informasi dari Pak Dewa selaku
pemilik tanah bahwa dulu pada masa Kakek dari Pak Dewa tersebut sering bermimpi
didatangi sosok Pria berjubah putih yang sering meminta agar tempatnya
dibersihkan. Namun kakek Pak Dewa kebetulan tidak tau dimana tepatnya.
Akhirnya
ketika membersihkan tegalan belakang rumahnya, ternyata terdapat gundukan yang
bentuknya tidak wajar. Dan akhirnya mengira bahwa ini adalah makam dari sosok
yang datang di mimpi tersebut. Setelah dibersihkan dan dirawat, Kakek dari Pak
Dewa tidak bermimpi lagi. Disampaikan juga bahwa yang dimakamkan di banjar
Sangging adalah 2 orang.
3.Masjid
Bersejarah Al – Abror dan Makam Islam Banjar di Ketewel, Sukawati
Terdapat
sebuah Masjid di sekitaran Pantai Pabean, Desa Ketewel bernama Masjid Al –
Abror. Tepatnya di Gang Musholla yang tidak terlalu nampak dari jalan. Masjid
ini telah digunakan beberapa generasi sejak keberadaan Ummat Islam di daerah
tersebut [7] hingga sekarang.
Diriwayatkan dari Alm. Cokorda Oka yang berasal dari Puri Kantor Ubud bahwa sekitar Tahun 1874 di wilayah Pantai Pabean, Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Gianyar, terdapat pelabuhan tradisional yang menjadi tempat persinggahan para nelayan dan pedagang dari Bugis, Sulawesi Selatan [7].
Kaum pedagang membawa kain sutra, sarung, permata dan perhiasan lainnya. Dan para nelayan berlabuh untuk beristirahat maupun memperbaiki kapal. Meskipun saat itu Pantai Pabean masih berupa semak belukar yang tak berpenghuni.
Dikarenakan kondisi saat itu para nelayan dan pedagang kesulitan mencari bahan makanan, mengharuskan mereka untuk tinggal lebih lama. Hal ini kemudian diketahui oleh prajurit Kerajaan Ubud, dan dilaporkan kepada Cokorda (Raja Ubud). Hingga Raja mengutus para punggawa untuk melakukan negosiasi agar pedagang dan nelayan Bugis tersebut membantu Kerajaan Ubud melawan kolonial Belanda.
Masjid Al-Abror Ketewel di masa sekarang
Kemudian pedagang dan nelayan Bugis tersebut bersedia untuk membantu Kerajaan Ubud menghadapi Kolonial Belanda dan musuh – musuh Kerajaan Ubud. Alhasil, Kerajaan Ubud memperoleh kemenangan gemilang. Raja Ubud pun senang dan bangga atas perjuangan mereka. Sehingga pedagang dan nelayan Bugis tersebut diberi hadiah untuk menempati Pantai Pabean dengan syarat tetap membantu Kerajaan Ubud.
Namun perjalanan kehidupan di masa Kolonial Belanda tidaklah mudah, Belanda terus menggempur Kerajaan Ubud. Belanda pun mengadu domba kerajaan – kerajaan lain di Bali untuk turut menggempur kerajaan Ubud. Namun kuatnya persatuan antara Kerajaan Ubud, rakyat Ubud dan ummat Islam yang merupakan para pedagang dan nelayan dari Bugis tersebut dapat mematahkan serangan – serangan musuh hingga tetes darah penghabisan.
Seiring waktu, dengan bermukimnya pedagang dan nelayan Bugis yang beragama Islam tersebut, maka berkembang dan beranak pinak. Serta turut pula dibangun Masjid sebagai sarana ibadah yang masih eksis hingga saat ini.
Dan dapatkan dalam Situs SIMAS Masjid Kemenag, Masjid ini termasuk dalam kelompok Masjid Bersejarah [8]. Terdapat pula sebuah Komplek Makam Muslim di Pantai Kubur, Banjar Kubur, Desa Ketewel, Sukawati.
C.Paska
Kemerdekaan
Pada era setelah
kemerdekaan, di kawasan kota sudah terdapat 6 Kepala Keluarga Muslim yang sudah
tinggal menetap dan memiliki tempat tinggal, diantaranya H. Saifuddin
Kamaruddin Lukmanji bermukim di pertokoan barat Puri Gianyar. H. Madrawi dan
Bapak Awi telah masuk ke Gianyar pada 1940 namun masi belum tinggal menetap.
Dan sejak tahun
1950. H. Madrawi dan Bapak Niman telah bermukim di Lingkungan Pasdalem yang
kini menjadi Taman Kanak – Kanak (TK) Kerta Kumara, Jalan Melati Pasdalem dengan diberikan hak guna pakai oleh Puri
Gianyar. DanBapak Awi di selatan
Lapangan Astina. Kemudian disusul H.M. Poliman dan Bapak Nijan pada 1952, yang
juga bermukim di Lingkungan Pasdalem. Dan pada 1954 sempat mendirikan Musholla
di kediaman tersebut sebagai sarana ibadah.
Musholla Pasdalem
Awal ini masi tetap digunakan oleh sebagian warga Muslim generasi berikutnya, meski
Masjid Jami Al-A’la Gianyar telah didirikan. Seiring waktu, warga – warga
tersebut membeli tanah sendiri. Sehingga penggunaan tanah tersebut dikembalikan
ke pihak Puri Gianyar. Dan kini digunakan sebagai Taman Kanak – Kanak (TK) Kerta Kumara.
Dan sekitar tahun 1980an Lingkungan Pasdalem Kelod makin banyak dihuni oleh ummat Muslim dari Jawa. Hingga mendirikan Musholla Nurul Hikmah.
D.Berdirinya
Masjid Agung Al-A’la Kabupaten Gianyar
Berawal dari wakaf
Bupati Made Kembar Krepun berupa sebidang tanah yang bertempat di desa Serongga,
Gianyar, untuk didirikan sebuah Masjid. Meskipun pada saat itu, umat muslim
yang bermukim hanya sedikit.
Menimbang jauhnya
lokasi pendirian masjid dari pusat kota khususnya pemukiman warga Muslim serta
situasi politik dan keamanan pasca G30S/PKI. Maka Panitia Pendirian Masjid
meminta agar tanah yang diwakafkan oleh Bupati Krepun tersebut, ditukar guling
dengan tanah yang berlokasi di depan Markas Armada Pertahanan Udara Ringan (ARHANUDRI) Gianyar (sekarang Yonzipur 18/YKR Gianyar). Mengingat
banyak anggota ARHANUDRI Gianyar yang juga beragama Islam.
Pada tahun 1967 M,
Masjid ini resmi didirikan pada tanah seluas ± 8 are. Dan diberi nama “MASJID
JAMI’ AL – A’LA GIANYAR”.
Adapun para
pendirinya yaitu:
H.M.
Poliman (warga
muslim yang sudah menetap di Gianyar dan juga menjabat Ketua Partai NU Cabang
Gianyar saat itu).
H.
Saifudin Kamarudin Lukmanji
(warga muslim yang sudah menetap di Gianyar sekaligus aktifisMuhammadiyah Gianyar),
Letnan
Oka Sukarja (anggota
Arhanudri Gianyar yang kini pensiun dengan pangkat Kapten dan saat ini tinggal
di Denpasar)
Darwanto(Arhanudri Gianyar)
Saheran (Guru PNS),
Jahrudin (Kepala Kejaksaan Negeri
Gianyar asal Makassar, sekaligus Ketua Takmir pertama);
Sumito ( sebagai Sekretaris Takmir
pertama) dan
Sumarno (Kepala BRI Gianyar saat itu,
sebagai Bendahara Takmir Pertama).
Pembangunan awal
masjid yang diarsiteki oleh Raden Su’ud ini rampung dalam waktu dua
tahun. Bangunan masjid pertama tidaklah sebesar sekarang, namun hanya sepertiga
dari luas bangunan sekarang.
Seiring dengan
pembangunan masjid, dibentuk pulalah Madrasah Al-Ittihad pada tahun 1969. Namun masih meminjam tempat di TK Bayangkari.
Dan pada tahun 1971, kegiatan madrasah ini sudah berada di bagian belakang masjid.
Sebagai tempat pembelajaran agama Islam.
Pada tahun 1980 juga
dibentuk Panitia Hari Besar Islam yang ketuanya dijabat oleh Bapak Pugo
Santoso.
Pada tahun 1984
dibentuk Remaja Masjid Al-A’la yang digagas oleh: M. Sukandi (putera H.M.
Poliman), Sumariyanto (kini menetap di Madura), H. Sadiran dan Alm. Mustamar
(terakhir menjabat Seksi Kebersihan hingga wafat pada 13 Agustus 2018).
Pada tahun 1992
serambi depan masjid diperluas untuk dapat menampung jamaah. Dan berdasarkan
petunjuk dari Kepala Departemen Agama, maka Masjid Jami Al-A’la berganti nama menjadi Masjid Agung Al-A’la Kabupaten Gianyar.
Dan dibentuk Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Gianyar sebagai
penyelenggara kegiatan hari besar Islam yang mencangkup seluruh wilayah
Kabupaten Gianyar. Yang sebelumnya masih menjadi satu dengan masjid.
Pada tahun 1995
dibentuklah Panitia Renovasi Pembangunan Masjid (yang diketuai oleh Sapto
Widodo dan Sekretaris Drs. H. Sholehuddin Abdul Choliq). Selama Renovasi
Pembangunan Masjid telah tiga kali berganti Ketua Panitia yaitu : dari Sapto
Widodo karena pindah tugas digantikan oleh Drs. Hasanuddin Said, setelah dua
tahun diganti oleh R. Suprayitno dan terakhir jabatan Ketua Panitia dipegang
oleh Drs. H. Teguh Mahargono sedangkan arsiteknya adalah Ir. Bambang Hermanto.
Pada tanggal 6 Juli
1996 dilaksanakan Renovasi Masjid secara total hingga menjadi seperti sekarang,
walau dengan modal sebesar Rp.25.000.000,00.
Upacara Peletakan Batu Pertama dilaksanakan pada Hari Jum’at oleh Bupati
Gianyar (Tjokorda Gde Budi Suryawan, SH) dan turut disaksikan oleh Muspida
Kabupaten Gianyar dan Ketua MUI Provinsi Bali (yang diwakili oleh Drs.Oentung
Oetomo). Renovasi tersebut diperluas hingga lahan Madrasah di bagian belakang
masjid, sedangkan Madrasah dipindah ke lokasi lain.
Pada tahun 2003 awal,
renovasi telah rampung. Bangunan masjid sudah menjadi tingkat dua dengan
memiliki dua kubah bulat di bagian depan. Namun masih mempertahankan bentuk
asli atap yang bertingkat dua. Kemudian bangunan baru diresmikan oleh Tjokorda
Gde Budi Suryawan, SH yang saat itu masih menjabat sebagai Bupati Gianyar pada
tanggal 9 Februari 2003.
Pada tanggal 10
November 2007, dengan adanya PP No 2 tahun 2007, dibentuklah Panitia
Pensertifikatan tanah masjid bagian belakang.
Pada 23 Januari
2014, dibentuk suatu badan yang menaungi Muallaf yang makin bertambah di
seputaran Gianyar yaitu Himpunan Bina Mualaf Indonesia Kabupaten Gianyar.
Didirikan oleh Sang Ayu Ketut Tantri, Istri Almarhum Bapak Sukari,S.Si yang
menjadi Ketua. Ida Ayu Eka, Istri Bapak Witain yang menjadi Sekretaris. Dan
Puspawati, istri dari Bapak H. M. Yasin dan menjadi Bendahara.
Seiring perkembangan
penduduk Muslim di Gianyar, Masjid yang dulunya masi memiliki banyak ruang
kosong, telah penuh hingga meluber ke jalan, terutama saat pelaksanaan Sholat
Jum’at, maka Dewan Kemakmuran Masjid Agung Al – A’la Kabupaten Gianyar
membentuk Panitia Renovasi dan Pengembangan Bangunan dengan Surat Keputusan
Nomor 3 tahun 2017 tertanggal 22 Februari 2017. Dan hingga kini renovasi sedang
berlangsung.
Sabtu, 3 Februari
2018 dikumpulkanlah jama’ah wanita khususnya ibu – ibu di wilayah Gianyar untuk
membentuk suatu wadah resmi dibawah naungan masjid. Sebagai tindk lanjut Rapat
Pleno pada Ahad 21 Janiari 2018. Terpilih Ibu Wahyuni dari Pasdalem sebagai
Ketua, Khoirunnisak sebagai Sekretaris dan Nur Fadilah sebagai Bendahara.
Foto Masjid Agung Al - A'la Kabupaten Gianyar terkini.
Dan pimpinan
kepengurusan Dewan Kemakmuran Masjid periode 2019 – 2022 antara lain, Mustasyar dijabat Ustadz Muhammad Hasyim Asy’ari; Ketua Dewan Syuro
dijabat H.Ibnu Atho’illah,ST,MT; Ketua Dewan Tanfidz (Ketua Umum) dijabat Agus
Arianto; Sekretaris Umum dijabat Muhammad Suyana; dan bendahara Umum dijabat
Bapak Munadi. Yang dilanjutkan pada periode kedua dalam masa jabatan 2022-2026
E. Tempat Pemakaman Muslim / URPUD Gianyar
Pada tahun 17 Mei 1973,
Warga Muslim yang diwakili oleh DPRD GR Kabupaten Gianyar dari Partai NU yakni
Bapak Misken putra dari Bapak Niman, H.M. Poliman yang juga Ketua Partai NU,
Bapak Siddiq dari Kejaksaan dan Raden Su’ud dari Departemen PU. Memperoleh wakaf
tanah berupa Tempat Pemakaman dari Puri Gianyar yang berlokasi di Kelurahan
Beng, Gianyar[2].
Bertempat di kantor
Camat Gianyar, serah terima dari pihak Puri Gianyar juga dihadiri oleh 17
Bendesa Adat se-Kecamatan Gianyar, Camat Gianyar dan Dandim 1616 saat itu. Kemudian
Tempat Pemakaman ini dikelola oleh Urusan Pekuburan dan Duka (URPUD) Ummat
Islam Kabupaten Gianyar. Dengan Ketua Pertama Bapak Misken
F. Masa Kini
Seiring bertambahnya jumlah penduduk Muslim di Gianyar, kampung - kampung Muslim mulai bermunculan dan Masjid, Musholla serta Lembaga Pendidikan Islam menyebar di penjuru Gianyar.
Beberapa Masjid dan Musholla yang berhasil penulis himpun diantaranya,
1. Masjid Darul Hijrah, Kampung Sindu Keramas;
2. Masjid Bersejarah Al-Abror, Pantai Pabean, Ketewel;
3. Masjid Agung Al-A'la Kabupaten Gianyar;
4. Masjid Nurul Yaqin, Semebaung;
5. Masjid Candra Asri, Batubulan;
6. Masjid Asy-Syuhada, Asrama Yonzipur 18/YKR, Bitera;
7. Musholla Nurul Hikmah, Pasdalem;
8. Musholla Al-Ikhlas, Sukawati;
9. Musholla Al-Amin, Batubulan;
10. Musholla An-Nur Rukun Warga Muslim (RWM) Serongga;
11. Musholla Muallifin, Samplangan;
12. Musholla BTN Loka Serana, Siangan;
13. Musholla Baitullah Tojan Permai, Blahbatuh;
14. Musholla Yayasan Penolong Pendidikan Anak Yatim dan Miskin (Yappenatim), Samplangan.
15. Musholla Darul Muzakki, Gianyar
16. Musholla Pasar Umim Gianyar
17. Musholla Poliklinik RSUD Sanjiwani
18. Musholla RSU Payangan
19. Musholla Mall Pelayanan Publik Pemerintah Kabupaten Gianyar.
20. Musholla Al - Ikhlas RSU Ari Çanti Ubud
21. Gedung Serba Guna (GSG) Ubudiyah, Br. Teges, Peliatan, Ubud;
22. GSG Nur Hidayah, Tegallalang;
23. GSG Yayasan Pendidikan Bintang Sembilan (Yaspbis), Perum GSM Kaja, Pering, Blahbatuh;
24. GSG Yayasan Al-Islah, Tedung Sari Damai, Abianbase;
25. GSG Kalimatun Sawa, BTN Multi Permai, Br. Jasri, Desa Belega, Blahbatuh;
26. Gedung Aula Luhur LDII, Jl Raya Silungan Ubud
27. Ruang Sholat SPBU Saba;
28. Ruang Sholat SPBU Kemenuh;
G. Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam
Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam di Gianyar tidak terlepas dari kedatangan umat Muslim itu sendiri. Terdapat dua lembaga yang menjadi perintis seperti Madrasah Al-Ittihad dan Yayasan Penolong Pendidikan Anak Yatim dan Miskin (YAPPENATIM).
Dimulai pada tahun 1969 seiring dengan pembangunan masjid, dibentuk pulalah Madrasah Al-Ittihad Sebagai tempat pembelajaran agama Islam. Namun madrasah disini ialah sejenis TPQ-MADIN. Dan masih meminjam tempat di TK Bayangkari. Pada tahun 1971, kegiatan madrasah ini sudah berada di bagian belakang Masjid. (saat ini menjadi toilet wanita dan sebagian shof depan Masjid).
Setelah renovasi besar tahun 1996 Madrasah Al-Ittihad di pindah ke lokasi lain dengan kesepakatan akan di ganti dengan lahan milik Masjid sesuai luas tanah dan bangunannya.
Adapun Lembaga Pendidikan Islam Formal di Gianyar dimulai dengan berdirinya Yayasan Penolong Pendidikan Anak Yatim dan Miskin (YAPPENATIM) di Banjar Sangging, Gianyar (timur SD 3 Gianyar). Dan sebagai Ketua ialah Bapak Drs.H.Muhson Efendi, Sekretaris ialah Bapak Abdurrahman dan Bendahara ialah Drs. Ansori
Hingga kini, lembaga - lembaga pendidikan Islam di Gianyar terus bermunculan dan berkembang. Baik berupa sekolah formal seperti TK IPHI, RA Harapan Bunda Semebaung, RA Khodijah Muslimat NU, MI Al-Itihaj, MI Harapan Bunda Semebaung. Dan lembaga TPQ-MADIN yang ada di pelosok - pelosok seiring munculnya Masjid, Musholla atau Gedung Serba Guna baru.
Dan pada Selasa 27 Agustus 2024 dilaksanakan serah terima ijin operasional MTs Murobbi yang digagas oleh H. Ibnu Atho'illah,ST,MT dan H. Dedek Arimbara,S.H. yang berlokasi di Gedung LP2B Gianyar
H. Nara
Sumber :
Tim Peneliti. Sejarah Masuknya Islam di Bali
(Denpasar: Bagian Proyek Bimbingan dan dakwah Agama Islam Propinsi Bali,
1997/1998).
M.Sukandi (Bendahara Masjid Agung Al-A’la Kab.
Gianyar 1982-1992, putera dari HM. Poliman)
Sulaiman, S.Ag (Ketua Takmir 1999-2002)
Sukisno Suwandi (Sekretaris Takmir 2005-2010)
H.Abdul Hamid Nasfi (Wakil Ketua Dewan Syuro 2019-2022)
M. Suyana (Sekretaris MUI Kab. Gianyar 2015-sekarang)
Syamsul Ma’arif (Ketua Takmir Masjid Al Abror Ketewel) dari A2015-sekarang
Penulis
artikel ini adalah Agus Suryadi,S.S. bin M. Sukandi bin H.M. Poliman. Lahir
pada 27 Juni 1990. Penulis merupakan lulusan S1 Sastra Inggris Bidang Minat
Penerjemahan Universitas Terbuka yang juga Ka.Sie Infokom Masjid Agung Al-A’la
Kabupaten Gianyar ini membuat artikel sejarah diatas guna menguatkan identitas
Islam di Kabupaten Gianyar. Serta sebagai referensi dan penyemangat bagi
generasi penerus dakwah Islamiyah di kota seni ini. Penulis membuka dan
menerima masukan, saran, informasi yang bersifat membangun artikel ini. Terutama dalam penyempurnaan dan melengkapi data yang diutamakan memiliki bukti otentik dan ilmiah.
Pimpinan Wilayah Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid (BKMM) Provinsi Bali menyelenggarakan acara Silaturahmi & Kunjungan Kerja Daerah. Dalam rangka memperkokoh ekonomi keluarga melalui penyerapan aspirasi bersama.
Sekaligus pembentukan Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid (BKMM) khusus Ibu - Ibu di Kabupaten Gianyar. Dihadiri oleh Bpk. H. Bambang Santoso, selaku Ketua PW Dewan Masjid Indonesia Provinsi Bali sekaligus Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Provinsi Masjid.
Beberapa pesan yang beliau sampaikan yakni pertama, dengan menukil hadits bahwa silaturahmi memanjangkan umur.